Sejarah Singkat

  1. AWAL PENERBANGAN DI SUNGAI MENTAYA MENGGUNAKAN PESAWAT ALBATROS

Kegiatan penerbangan di kota sampit pada mulanya dimulai tahun 1959-1960 yaitu dengan dilaksanakan penerbangan dari Banjarmasin ke Sampit PP menggunakan ALBATROS (Amfibi ) TNI – AU (dahulu AURI ).

Pendaratan dilakukan di Sungai Mentaya dan berlabuh di dermaga milik Pemda TK. II Kotawaringin Timur yang berada di depan pendopo Kabupaten ( sekarang dermaga Pelabuhan Sampit ).

Penerbangan tersebut dilaksanakan dalam operasi bakti melaksanakan misi Pemerintah dalam upaya membuka / menembus daerah-daerah terisolir khususnya di Kalimantan Tengah melalui jembatan Udara karena terbatasnya jumlah pesawat penerbangan tersebut sulit berlanjut bahkan kemudian terhenti. dan hanya mampu bertahan selama 2 tahun.

  1. PEMERINTAH DAN MASYARAKAT BERGONTONG ROYONG MEMBANGUN LAPANGAN TERBANG.

Keberadaaan transportasi udara saat itu semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat berupa tersedianya angkutan penumpang melalui udara walau belum dalam jumlah yang besar,serta makin lancarnya kiriman pos,majalah dan koran dari daerah lainnya.

Dengan terhentinya penerbangan maka hilang pula lah pelayanan jasa angkutan udara,hal ini menumbuhkan semangat masyarakat bergotong royong untuk membangun Lapangan Terbang.

Saudara H.Asan (Almarhum ) tanggal 31 Agustus 1960 menyerahkan sebidang tanah ukuran 1.500 meter x 110 meter kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kotawaringin Timur untuk dibangun sebuah Lapangan Terbang. Untuk mengenang jasa almarhum nama H.Asan diabadikan menjadi nama Bandara Dengan dimotori oleh Pemda dan Kodam ( waktu itu ),seluruh dinas instansi,pelajar dan masyarakat bergotong royong membangun landasan pacu sederhana.Meskipun hanya berupa landasan rumput,namun dapat didarati pesawat kecil PT.Merpati Nusantara Airline menggunakan pesawat kecil (Otter Pilatus) jurusan Banjarmasin – Sampit PP.

Keterbatasan armada kembali menjadi kendala dan penerbangan terhenti untuk beberapa tahun lamanya.

  1. P.T DIRGANTARA AIR SERVICE & PENERBANGAN PERINTIS

Landasan rumput yang tidak digunakan beberapa tahun lama kelamaan akhirnya menjadi belukar PT.Dirgantara Air Service (DAS) yang merupakan perusahaan Air Charter / Air Taxi akan melaksanakan penerbangan perintis di Daerah Kalimantan Tengah dan Selatan.Untuk menyiapkan landasan pacu bagi penerbangan perintis tersebut AURI / KODAU II menugaskan personilnya KOPTU ABDUL HAMID ke Sampit. melaksanakan pendekatan dan kerja sama dengan Pemda maka tahun 1970 landasan pacu dapat didarati kembali dan diterbangi dengan Pesawat BN2A milik PT.DAS. 

  1. MENJADI LAPANGAN TERBANG PERINTIS 

Tahun 1970 dimulai dengan frekuensi penerbangan hanya 2 kali/minggu, dan pada tahun 1977 meningkat menjadi rata – 21 kali / minggu dan statusnya ditingkatkan menjadi lapangan terbang perintis yang dipimpin oleh Sdr SOEHARSOYO (sebagai Kepala lapangan terbang perintis H.Asan) sesuai surat Kepala Kantor Wilayah III Surabaya Nomor : Skep.308/WL-III/VIII/77 tanggal 25 Agustus 1977.

  1. DITINGKATKAN LAGI MENJADI BANDAR UDARA KELAS V DAN KEMUDIAN KELAS III

Berdasarkan surat Keputusan Menteri Perhubungan tanggal 19 Februari 1983 Nomor : KM.68/HK.207/PHB-83 Tentang pembentukan lapangan Terbang perintis menjadi pelabuhan udara kelas IV dan kelas V,maka lapangan Terbang perintis H.Asan ditingkatkan menjadi pelabuhan udara kelas V (untuk selanjutnya istilah pelabuhan udara diganti menjadi Bandar Udara ).Pada tahun 1984 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah menyerahkan pengelolaan Bandar Udara Kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara c,q Kepala Kantor Wilayah III Surabaya,dan mulai Tahun 1984/1985 Pelabuhan Udara H.Asan memperoleh anggaran DIK pusat.

Sesuai Keputusan Menteri Perhubungan nomor 4 tahun 1995 kelasnya ditingkatkan dari Bandara Kelas V menjadi Bandar Udara Kelas III. Sejalan dengan itu Kepala Bandara meningkat pula Eselonnya dari Eselon V menjadi Eselon IVa. Ketika mulai dikelola oleh Perhubungan Udara Arus lalu lintas semakin meningkat tajam. Data Arus lalu lintas udara Tahun 1984 

sebagai berikut :

  • Pergerakan Pesawat 7.288 kali dibanding Tahun 1974 naik 882%
  • Penumpang datang dan berangkat 55.196 orang dibandingkan Tahun 1974 (4.827 orang) naik 1.043%
  • Barang bongkar dan muat 65.797 Kg dibanding Tahun 1974 13.482 Kg naik 388%
  • Post dan Giro bongkar dan muat 18.538 Kg dibandingkan Tahun 1976 4.178 Kg naik 344% Tahun 1976 Post dan Giro baru mulai memanfaatkan jasa penerbangan. 

Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kotim serta Sampit pada khususnya sehingga secara bertahap kemampuan dan pelayanan Angkutan Udara akan lebih meningkat lagi. Dalam hal ini merupakan tantangan serta tugas mulia bagi pejabat yang memangku untuk lebih mampu meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat pemakai jasa Angkutan Udara. Dengan ditingkatkannya kelas Bandara maka banyak pula fasilitas-fasilitas yang harus ditingkatkan antara lain Landasan Pacu yang dulunya hanya mampu didarati pesawat jenis Cassa 212 dan BN2A sekarang mampu didarati pesawat ATR.42, ATR-72, Fokker 100 dan Boeing 737-203/500. 

  1. POTENSI ANGKUTAN UDARA DAN PROGRAM PENGEMBANGAN 

Sejak dioperasikan pada tahun 1974 (pax 4.827 orang) arus lalu lintas angkutan udara meningkat dengan pesat dan mencapai puncaknya tahun 1990 (pax 79.390 orang).Dengan tembusnya transportasi darat ke Palangkaraya dan Pangkalan Bun tahun 1993 serta terbukanya transportasi laut oleh P.T PELNI,membawa dampak transportasi udara mengalami penurunan jumlah penumpang.Penurunan semakin terasa setelah terjadinya krisis moneter yang melanda Negara kita pada tahun 1998.Saat ini keadaan perekonomian semakin membaik terbukti aktivitas masyarakat melakukan kegiatan usaha dan melakukan perjalanan melalui darat,laut dan udara juga meningkat.Angkutan penumpang kapal laut di Sampit yang semula pada tahun 1993 meningkat tajam dan pada tahun 1999 tercatat 430.000 penumpang ( terdapat nomor dua di Kalimantan setelah Balikpapan ) ini menandakan perekonomian di Sampit berkembang pesat.Perusahaan angkutan penumpang kapal laut yang beroperasi PT.Pelni,PT.Dharma lautan Utama (Kapal ro-ro) dan PT. ASDP ( Kapal Feri cepat ) dengan jumlah pelayanan sebanyak 32 kali/bulan atau rata-rata tiap hari ada kapal penumpang.Kapal milik PT DLU selain dapat mengangkut 950 buah kendaraan dan truk.Angkutan barang dengan container yang dirintis sejak tahun 1995 menunjukan kebersihan terbukti saat ini container yang selalu penuh box. Angkutan container dilayani PT Meratus rute Surabaya dan Jakarta serta PAC Bangka untuk perkebunan terdaftar 77 perusahaan dan telah beroperasi sebanyak 24 perusahaan dengan luas lahan rata-rata 10.000 ha/perusahaan dan rata-rata investasi Rp200 miliar/ perusahaan.Usaha perkebunan ini direncanakan tahun 2001 akan memproduksi CPO, PT.Pelabuhan Indonesia III tahun 2000 sudah membangun pelabuhan CPO di Bagendang (26 KM dari Sampit ).Tanggal 11 September 1999 dilakukan survey demand angkutan udara jalur penerbangan Jawa pada 117 perusahaan/pengusaha sebagai hasil polling sebagai berikut:-Sampit – Surabaya – 580 orang calon pax / bulan – Sampit – Jakarta 403 orang calon pax / bulan jumlah 1.099 orang calon pax / bulan Jumlah penumpang optimis bias lebih besar dari angka diatas meningkat belum semua perusahaan dan anggota masyarakat terekam dalam survey.Tambahan lainnya penumpang pesawat udara di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya berdasarkan pengamatan ternyata 50 % berasal dari kota Sampit dan sekitarnya.Karena antar kota di Kalimantan saat ini telah dihubungkan jalan darat ( Sampit – Pangkalan Bun – Palangka Raya – Balikpapan – Pontianak ) dengan tarif relatif murah maka Demand angkutan udara juga mengalami pergeseran dari permintaan transportasi udara antar kota di Kalimantan dengan kota dagang di pulau Jawa.Dari pengamatan ternyata kota yang memiliki akses penerbang ke pulau Jawa lebih cepat berkembang dari yang tidak memiliki,terlebih bila otonomi daerah telah diberitahukan.Dengan penerbangan langsung dari Sampit ke Surabaya dengan pesawat medium F27 meningkat besarnya animo masyarakat.Seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat akan adanya penerbangan langsung ke modal di Kabupaten Kotawaringin Timur,maka secara bertahap Bandar Udara H.Asan Sampit diprogramkan untuk dapat didarati pesawat yang lebih besar ( B-737 Series / sejenisnya). 

  1. DITINGKATKAN LAGI MENJADI BANDAR UDARA KELAS II

Sesuai Keputusan Menteri Perhubungan nomor : 6 tahun 2008 tanggal 12 Februari 2008 Bandar Udara H. Asan dinaikan kelasnya menjadi Bandar Udara kelas II. Sejak tahun 2006 telah mampu didarati pesawat F 27/sejenis kemudian pada akhir tahun 2007 Bandar Udara mampu didarati pesawat berbadan lebar B.737-200, dengan banyaknya permintaan maka perusahaan penerbangan membuka jalur semula SUB-SMQ-SUB dengan pesawat Merpati ( Subsidi APBD ) 4 kali/minggu yaitu hari Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu, kemudian menyusul pesawat Kartika dengan tujuan CGK-SMQ-CGK ( Carter ) se minggu 3 kali/minggu. Dan sejak awal Tahun 2009 Pemda Kotim ikut menanam modal di PT. Merpati Nusantara sebesar Rp25.000.000.000,- dengan sistem bagi hasil dan pesawat yang dipergunakan jenis Fokker 100 dan resmi berlogo Pemda Kotim denga Route SBY-SMQ-CGK PP 4 kali/minggu dan tidak ketinggalan pula PT. Kalstar dengan membuka Rute baru BDJ-SMQ-PKN-KTP-PNK PP 7 kali/minggu (setiap hari) dengan pesawat ATR 42.

Fasilitas Bandar Udara terus ditingkatkan / dilengkapi antara lain :

  1. Gedung DVOR-DME lengkap dengan peralatannya DVOR-DME nya dibangun T.A 2007-2008
  2. Lampu PAPI 2 sisi untuk memandu pendaratan 
  3. Airfield Lighting (Runway Light , Taxiway Light, Apron Light, Threshold Light), untuk lampu pendaratan bila ada penerbangan malam hari atau terjadi cuaca berkabut (asap).
  4. Tower Set
  5. Kendaraan PKP-PK
  6. Gedung Terminal
  7. Pelebaran Apron

Demikian informasi ini disampaikan, semoga berguna dalam Antisipasi Pelayanan Operasional dan Program Pembangunan penunjang pengembangan Bandar Udara H. Asan Sampit, Namun demikian buku ini masih jauh dari sempurna kepada pembaca yang budiman mohon kritik dan saran yang bersifat membangun, demi kemajuan Bandar Udara di masa mendatang. (2015)