SAMPIT – Antusiasme masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk menggunakan moda transportasi udara tengah mengalami lonjakan luar biasa. Tercatat, pergerakan penumpang di Bandar Udara H. Asan Sampit melonjak tajam hingga 52 persen. Namun, tingginya mobilitas warga ini harus diimbangi dengan jaminan keselamatan penerbangan yang mutlak dan tanpa kompromi.
Guna memastikan setiap warga yang terbang dan mendarat di Sampit terjamin keamanannya, Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II H. Asan Sampit bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Kotim dan AirNav Indonesia menggelar rapat koordinasi krusial pada Selasa (7/4/2026). Fokus utama pertemuan ini adalah mencari solusi cepat untuk menangani obstacle atau rintangan berupa pepohonan rimbun di luar area bandara yang mulai menutupi jarak pandang petugas Air Traffic Controller (ATC) di menara pemantau.
Kepala Otoritas Bandar Udara (OBU) Wilayah VII, Ferdinan Nurdin, yang turut hadir secara virtual menegaskan bahwa keselamatan nyawa penumpang adalah prioritas tertinggi. Pandangan petugas ATC yang terhalang pohon bukanlah masalah sepele. Jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat saat pesawat mendarat, petugas ATC harus bisa melihat arah pesawat dengan jelas agar tim Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) dapat merespons dalam hitungan detik. Keterlambatan respons akibat pandangan terhalang bisa berakibat fatal bagi keselamatan keluarga dan kerabat kita yang berada di dalam pesawat.
Selain aspek keselamatan nyawa, rintangan penerbangan ini juga berdampak langsung pada perekonomian daerah. Kepala UPBU H. Asan Sampit, Abdul Haris, mengungkapkan bahwa bandara sebenarnya tengah dilirik oleh berbagai maskapai baru yang ingin membuka rute ke Sampit. Namun, ketiadaan jaminan jarak pandang yang bersih membuat maskapai urung masuk.
“Jika rintangan ini segera kita bersihkan, maskapai baru tidak akan ragu untuk beroperasi. Artinya, masyarakat Kotim akan memiliki lebih banyak pilihan jadwal penerbangan, mobilitas semakin lancar, dan roda ekonomi daerah akan berputar jauh lebih cepat,” ujar Abdul Haris.
Menyikapi urgensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Dinas Perhubungan langsung mengambil langkah proaktif. Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah, memastikan bahwa pihaknya tidak diam. Melalui pendekatan kekeluargaan dan musyawarah dari hati ke hati yang dibantu oleh pihak Kelurahan Baamang Hulu, warga sekitar bandara menunjukkan dukungan penuh. Mayoritas warga bersedia pepohonan di lahan mereka dipangkas demi kepentingan keselamatan orang banyak dan kemajuan daerah asalnya.
Pemda Kotim menargetkan proses negosiasi dan eksekusi pembersihan area rintangan di sekitar Runway 13 dapat terselesaikan pada akhir April 2026. Untuk memastikan efisiensi anggaran dan ketepatan sasaran, tim gabungan dari Pemda, AirNav, dan pengelola bandara juga langsung turun ke lapangan dan memantau langsung dari menara ATC guna menentukan pepohonan mana yang menjadi prioritas utama untuk segera ditebang.
Langkah sinergis ini menjadi bukti nyata bahwa seluruh elemen di Kotawaringin Timur, mulai dari pengelola bandara, pemerintah daerah, hingga warga sekitar memiliki semangat gotong royong yang sama. Semuanya sepakat: keselamatan nyawa masyarakat di udara adalah yang utama, dan bandara yang aman adalah kunci bagi kemajuan ekonomi Bumi Habaring Hurung. Harapannya, dalam waktu dekat masyarakat luas (#SahabatHAsan) dapat menikmati layanan penerbangan yang semakin aman, nyaman, dan beragam dari Bandara H. Asan Sampit.