Bagi sebagian besar dari kita, bandara regional adalah titik transit – sebuah gerbang fungsional untuk memulai atau mengakhiri perjalanan. Namun, di balik aktivitas penumpang yang rutin, sering kali tersimpan cerita tentang tantangan tersembunyi dan ambisi besar. Bandara H. Asan Sampit di Kotawaringin Timur adalah sebuah studi kasus sempurna tentang dinamika ini. Di balik operasionalnya, sedang berlangsung sebuah upaya transformasi berisiko tinggi yang didorong oleh kebutuhan mendesak dan visi kemajuan regional. Artikel ini akan mengungkap empat temuan paling mengejutkan dari perjuangan mereka di balik layar.
1. Paradoks Keselamatan: Pagar Setinggi Lutut dan “Wisata” di Ujung Landasan
Setiap rencana pengembangan ambisius harus berdiri di atas fondasi yang kokoh. Namun, di Bandara Sampit, fondasi itu justru menjadi penghalang utama. Sebuah temuan audit dari Inspektorat Jenderal baru-baru ini menyoroti risiko keselamatan fundamental yang selama ini terabaikan, memberikan urgensi baru pada upaya pembenahan.
Pagar perimeter bandara yang seharusnya menjadi benteng keamanan pertama, nyatanya hanya setinggi 40-50 cm—atau “setinggi lutut”—jauh di bawah standar 2,44 meter. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebuah jalan akses publik melintasi area steril di ujung landasan pacu, digunakan warga untuk aktivitas sehari-hari seperti mengantar anak ke pasar dengan berjalan kaki atau sepeda motor.
Ironisnya, area berbahaya ini justru telah berubah fungsi menjadi “tempat wisata” dadakan. Setiap sore, warga berkumpul untuk menonton pesawat mendarat dan lepas landas dari jarak yang sangat dekat. Sifat kasual dari akses publik ini menyembunyikan risiko yang parah. Seorang pejabat merangkum kerentanan ini dengan gamblang, menyoroti betapa mudahnya sebuah tindakan iseng dapat bereskalasi menjadi bencana.
Kondisi inilah yang menjadi batu sandungan utama, sebuah risiko nyata yang harus diatasi sebelum Sampit dapat membuka gerbangnya lebih lebar untuk masa depan.
2. Misi Mendatangkan Pesaing: Mengakhiri Era “Pesawat Batuk-Batuk”
Dengan isu keselamatan yang menjadi penghalang, misi strategis bandara untuk mendatangkan operator baru menjadi semakin krusial. Dorongan ini lahir dari keinginan publik untuk mengakhiri monopoli layanan, meningkatkan kualitas, dan menciptakan persaingan harga yang sehat. Keluhan masyarakat begitu kuat hingga muncul istilah “jangan sampai pesawat yang batuk-batuknya lagi nanti ramai di bandara.”
Menjawab aspirasi ini, manajemen bandara tidak menunggu, melainkan menerapkan strategi “jemput bola”. Tim bandara bekerja maraton selama lebih dari sebulan, melakukan kajian teknis mendetail hingga larut malam, bahkan di hari libur. “Sampai jam 11.00 malam waktu itu kita zoom,” ungkap seorang pejabat, menggambarkan kegigihan mereka.
Analisis strategisnya pun tajam: mereka tidak meminta operator menambah pesawat baru, melainkan menawarkan Sampit sebagai cara untuk memaksimalkan “sisa utilisasi pesawatnya” yang ada, sebuah proposal bisnis cerdas yang menyasar efisiensi operasional. Harapan besar ini disuarakan dengan jelas:
Kalau kami sih pribadi di bandara penginnya ada operator baru, satu jadi pesaing enggak monopoli. Yang kedua pelayanan masih meningkat yang diungkan masih seluruh masyarakat di sini ya.
3. Solusi Kreatif di Depan Mata: Dari Portal Kereta Api hingga Jembatan Baru
Untuk membuka jalan bagi operator baru dan mengatasi temuan audit, kolaborasi lintas yurisdiksi antara otoritas bandara (pemerintah pusat) dan Pemerintah Daerah menjadi kunci. Situasi ini menjadi studi kasus klasik dalam menyelaraskan jadwal dan kewenangan yang berbeda.
Sebagai solusi jangka pendek yang pragmatis, akan dipasang portal atau palang pintu di jalan akses warga. Mekanismenya dirancang mirip perlintasan kereta api, ditutup sementara saat pesawat akan mendarat atau lepas landas. Langkah ini bukan hanya solusi teknis, tetapi juga sebuah sinyal keseriusan kepada calon operator dan upaya untuk secara bertahap mengkondisikan masyarakat akan perubahan permanen.
Untuk solusi jangka panjang, Pemerintah Daerah telah berkomitmen menganggarkan dana pada tahun 2026. Rencana ini mencakup infrastruktur permanen berupa jalan alternatif dan sebuah jembatan atau titian di ujung sungai untuk pejalan kaki serta sepeda motor. Proyek ini bukan sekadar membangun jembatan, tetapi harus mematuhi regulasi keselamatan penerbangan (KKOP) yang ketat, seperti kemiringan lereng bebas hambatan (obstacle clearance slope) yang presisi. Ini menunjukkan kompleksitas pemecahan masalah infrastruktur vital di lingkungan bandara.
4. “Gula Tambahan”: Potensi Rute Baru untuk Haji dan Umrah
Di tengah upaya pembenahan infrastruktur vital, sebuah sinyal pasar yang kuat muncul dan berpotensi mengubah kalkulasi ekonomi secara fundamental. Pihak Angkasa Pura di Banjarmasin menunjukkan minat untuk membuka rute Banjarmasin-Sampit yang dikhususkan melayani jemaah haji dan umrah.
Peluang ini lebih dari sekadar “gula tambahan” atau pemanis. Dari perspektif pengembangan regional, ini adalah sinyal pasar yang secara signifikan mengurangi risiko investasi bagi maskapai baru. Minat ini membuktikan adanya segmen penumpang laten bernilai tinggi di luar lalu lintas reguler yang sudah ada, membuat rute Sampit jauh lebih menarik daripada yang mungkin disarankan oleh proyeksi awal. Hal ini memperkuat kelayakan ekonomi untuk pengembangan bandara dan menjadi amunisi tambahan yang sangat kuat untuk meyakinkan calon operator.
Penutup: Sebuah Awal Baru dari Langit Sampit
Perjalanan Bandara Sampit, dari menghadapi tantangan keselamatan fundamental hingga kini berada di ambang transformasi, menunjukkan sebuah dinamika luar biasa. Dengan mengatasi hambatan keamanan, mengejar konektivitas baru secara proaktif, dan menemukan potensi pasar yang tak terduga, langit Sampit bersiap menyambut babak baru. Kisah transformasi ini menjadi cerminan bahwa di balik infrastruktur yang kita gunakan setiap hari, ada semangat kolaborasi dan visi besar untuk kemajuan daerah. Seberapa pentingkah peran konektivitas udara seperti ini bagi masa depan kota Anda?