Edukasi Generasi Muda, Bandara H. Asan Sampit Kampanyekan Pentingnya Keselamatan Penerbangan di SMAN 2 Sampit

Dalam rangka menumbuhkan kesadaran sejak dini, Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II H. Asan Sampit menggelar Kampanye Keamanan dan Keselamatan Penerbangan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Sampit pada Selasa, 30 September 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi para siswa mengenai peran vital mereka dalam menjaga keamanan penerbangan sebagai tanggung jawab bersama, sekaligus memperkenalkan prospek karir di dunia aviasi.

Acara yang berlangsung di aula SMAN 2 Sampit ini dibuka dengan sambutan hangat dari kedua belah pihak. Kepala SMAN 2 Sampit dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada pihak Bandara H. Asan atas inisiatif tersebut. “Kegiatan ini merupakan kesempatan langka bagi siswa kami untuk menambah wawasan tentang dunia penerbangan, sebuah materi penting yang tidak ada dalam kurikulum. Kami berharap ini menjadi bekal ilmu yang bermanfaat,” ujarnya.

Mewakili pimpinan Bandara H. Asan, Kepala Seksi (Kasi) Teknik, Operasi, Keamanan dan Pelayanan Darurat (TOKPD), Tedy Rachmajadi, menegaskan bahwa kampanye ini memiliki misi ganda. “Kami tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa dunia penerbangan terbuka luas. Keamanan dan Keselamatan Penerbangan bukan hanya tanggung jawab kami di bandara, melainkan tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat,” jelas Tedy.

Ancaman Lokal dan Aturan Internasional

Para siswa mendapatkan pemaparan komprehensif dari tim UPBU H. Asan, yaitu Ricky Rizaldi, Putri Dini Amalia, dan Syaifudin Miftakhul Hudha. Materi utama berfokus pada ancaman-ancaman yang sering dianggap sepele namun sangat fatal bagi penerbangan, seperti bahaya bermain layang-layang, balon udara, laser, dan drone di sekitar area bandara.

“Benang layang-layang yang putus bisa tersangkut di mesin atau sayap pesawat, sinar laser dapat menyilaukan pilot, dan drone bisa bertabrakan dengan pesawat. Semua ini berpotensi menyebabkan kecelakaan serius,” papar Ricky Rizaldi dalam sesinya.

Selain itu, dijelaskan pula mengenai barang-barang berbahaya (dangerous goods) yang dibatasi dalam penerbangan, seperti powerbank berkapasitas di atas 20.000 mAh yang berisiko meledak akibat perubahan tekanan udara. Para siswa juga diingatkan mengenai sanksi tegas bagi siapapun yang memasuki area bandara tanpa izin, yaitu ancaman pidana penjara satu tahun dan denda hingga tiga miliar rupiah.

Mengenal Sekolah Penerbangan dan Peran Pemuda

Tidak hanya membahas aturan dan larangan, kampanye ini juga membuka wawasan siswa mengenai peluang karir di industri penerbangan. Sesi istimewa diisi oleh Rahimah, seorang Taruni dari Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug, yang memperkenalkan alur pendaftaran mahasiswa baru melalui Seleksi Penerimaan Calon Taruna/Taruni (SIPENCATAR). Ia membagikan informasi mengenai sejarah PPI Curug, program studi yang tersedia, hingga persyaratan pendaftaran.

Sesi ini diperkuat oleh materi dari Syaifudin Miftakhul Hudha yang menyoroti peran strategis pemuda dalam memajukan keselamatan penerbangan melalui idealisme, kreativitas, dan penguasaan teknologi.

Diskusi Hangat Seputar Isu Penerbangan di Sampit

Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang paling dinanti. Para siswa dan guru aktif bertanya, mulai dari konsekuensi mengambil gambar di area pemeriksaan hingga isu lokal yang menjadi perhatian masyarakat, yaitu harga tiket pesawat yang tinggi dan terbatasnya jumlah maskapai di Bandara H. Asan.

Menanggapi hal ini, Kasi TOKPD, Tedy Rachmajadi, menjelaskan bahwa pasca-pandemi, industri penerbangan menghadapi tantangan berat termasuk kenaikan harga bahan bakar. Namun, ia memastikan bahwa manajemen Bandara H. Asan terus berupaya keras.

“Saat ini kami terus melobi maskapai-maskapai lain. Alhamdulillah NAM Air sudah membuka rute ke Surabaya dan Semarang. Mohon doa dan dukungannya agar maskapai seperti Super Air Jet, Batik Air, atau Air Asia bisa segera bergabung, sehingga dengan bertambahnya kompetisi, harga tiket bisa lebih terjangkau,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Kegiatan ditutup dengan kesimpulan bahwa keselamatan penerbangan adalah tanggung jawab kolektif. Diharapkan para siswa SMAN 2 Sampit dapat menjadi agen perubahan dan duta keselamatan penerbangan di lingkungan mereka masing-masing.

Tinggalkan komentar